Minggu, 21 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (7)

 

Bab 7

Jalan Menuju Kota



Fajar datang terlalu cepat.

Kabut tipis masih menggantung di atas ladang ketika suara langkah kuda mulai terdengar di jalan desa. Udara pagi dingin, membawa aroma tanah basah dan sisa embun malam.

Ardashir berdiri di depan rumahnya dengan pakaian perjalanan sederhana.

Jubah wol cokelat.
Sepasang sepatu kulit tua.
Pisau kecil di pinggang.

Dan di balik lipatan pakaiannya, tersimpan kain tenun merah dengan jahitan pohon delima.

Pemberian Roxana.

Bahram sedang memasangkan tali pelana pada kuda hitam itu. Tangannya tenang, tetapi matanya tidak sepenuhnya demikian.

“Jangan terlalu percaya pada orang yang terlalu cepat memuji,” katanya tanpa melihat Ardashir.
“Dan jangan terlalu membenci orang yang mengkritikmu.”

Ardashir mengangguk pelan.

Bahram mengencangkan tali terakhir, lalu menepuk leher kuda.

“Kalau suatu hari kau merasa tersesat,” lanjutnya,
“ingat saja siapa dirimu sebelum orang-orang mulai mengenal namamu.”

Ardashir menelan napas perlahan.

“Ayah…”

Bahram mengangkat tangan kecil, menghentikannya.

“Tidak perlu kata-kata besar pagi ini.”

Namun beberapa detik kemudian pria tua itu justru memeluk anaknya singkat.

Cepat. Kuat. Diam.

Pelukan laki-laki yang tidak pandai menunjukkan perasaan.

Dan justru karena itulah… terasa lebih berat.

---

Di ujung jalan desa, para utusan kerajaan sudah menunggu.

Kuda-kuda mereka mengembuskan napas putih ke udara pagi.

Beberapa pemuda desa lain juga ikut bergabung, wajah mereka campuran antara bangga dan takut.

Ardashir menaiki kudanya perlahan.

Lalu tanpa sadar, matanya mencari satu wajah.

Dan ia menemukannya.

Roxana berdiri tidak jauh dari sumur desa.

Ia mengenakan pakaian biru sederhana dengan selendang putih yang tertiup angin pagi.

Tidak menangis.

Tidak berlari menghampiri.

Hanya berdiri diam sambil memandangnya.

Namun justru itu yang membuat hati Ardashir terasa lebih berat.

Pria utusan kerajaan memberi aba-aba.

“Kita berangkat!”

Barisan mulai bergerak.

Kuda-kuda melangkah perlahan meninggalkan desa.

Suara tapal kuda terdengar ritmis di jalan tanah.

Ardashir menoleh sekali lagi.

Roxana masih berdiri di sana.

Kecil dari kejauhan.

Namun entah kenapa… terasa seperti seluruh hidupnya tertinggal di tempat itu.

---

Perjalanan menuju kota kerajaan memakan waktu berhari-hari.

Mereka melewati:

* padang rumput luas
* bukit berbatu
* sungai kecil
* desa-desa yang jauh lebih besar daripada kampung Ardashir

Di malam hari mereka beristirahat di perkemahan sederhana.

Api unggun menyala di tengah lingkaran para pemuda.

Sebagian berbicara penuh semangat tentang istana dan kemuliaan.

Sebagian lain diam karena takut.

Ardashir lebih sering memandang api tanpa banyak bicara.

Seorang pemuda bernama Vardan duduk di sebelahnya.

“Kau kelihatan seperti orang yang dipaksa pergi,” katanya sambil tertawa kecil.

Ardashir tersenyum samar.

“Mungkin sebagian diriku memang begitu.”

Vardan mengunyah roti kering.

“Aku justru tidak sabar melihat kota. Katanya jalannya dilapisi batu dan ada pasar yang besarnya seperti sepuluh desa.”

Ardashir mencoba membayangkannya.

Sulit.

Dunianya selama ini hanya:

* kandang kuda
* ladang
* pohon delima
* dan seorang gadis yang menunggunya di desa

Malam semakin larut.

Satu per satu pemuda mulai tertidur.

Namun Ardashir belum bisa memejamkan mata.

Ia mengeluarkan kain merah kecil itu dari balik pakaiannya.

Cahaya api membuat jahitan pohon delima tampak hidup.

Tangannya menyentuh jahitan itu perlahan.

Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan desa…

ia benar-benar merasa rindu.

---

Beberapa hari kemudian, mereka tiba di sebuah bukit besar.

Pria utusan kerajaan mengangkat tangan.

“Lihat.”

Para pemuda menoleh ke depan.

Dan saat itu…

Ardashir melihat kota kerajaan Persia untuk pertama kalinya.

Napasnya tertahan.

Tembok besar berdiri megah di bawah cahaya matahari.

Menara-menara tinggi menjulang ke langit.

Panji-panji kerajaan berkibar tertiup angin.

Jalan-jalan besar dipenuhi manusia, kereta, pedagang, dan pasukan berkuda.

Begitu besar.

Begitu hidup.

Begitu jauh dari dunia kecil yang ia kenal.

Vardan bersiul pelan.

“Demi para dewa…”

Namun Ardashir tidak menjawab.

Karena di tengah kekagumannya…

ia tiba-tiba merasa sangat kecil.

Pria utusan itu memandang para pemuda.

“Mulai hari ini,” katanya tegas,
“hidup kalian berubah.”

Ardashir menatap kota itu lama.

Lalu tanpa sadar menggenggam kain merah di balik jubahnya.

Seolah ia takut kehilangan satu-satunya hal yang masih terasa seperti rumah.

---

Dan jauh di desa kecil itu…

di bawah pohon delima yang mulai berbunga lebih lebat…

Roxana masih datang setiap sore.

Sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar