Bab 10
Gadis dari Istana
Musim mulai berganti.
Udara di kota Persia tidak lagi sedingin ketika Ardashir pertama kali datang. Matahari kini terasa lebih hangat, dan halaman-halaman batu di kompleks pelatihan mulai dipenuhi debu kering.
Namun latihan justru semakin keras.
Rustom tampaknya percaya bahwa tubuh manusia baru benar-benar menunjukkan wataknya ketika lelah.
Hari itu para peserta latihan diminta memindahkan karung pasir besar dari gudang menuju lapangan belakang.
Pekerjaan sederhana.
Tetapi dilakukan setelah latihan tombak dan berkuda sejak pagi.
Sebagian pemuda mengeluh diam-diam.
Sebagian lagi melakukannya sambil mengumpat pelan.
Ardashir hanya mengangkat karungnya dan berjalan.
Keringat membasahi leher dan lengannya. Nafasnya berat, tetapi langkahnya tetap stabil.
Ketika melewati lorong taman bagian dalam kompleks pelatihan, ia mendengar suara seseorang.
“Berhenti sebentar.”
Ardashir menoleh.
Seorang gadis berdiri di dekat kolam kecil dari batu putih.
Pakaian biru tua dengan bordir emas halus. Rambut hitamnya diikat sederhana, tidak semewah perempuan istana lain yang pernah Ardashir lihat di kota.
Artazara.
Ardashir segera menundukkan kepala hormat.
“Putri.”
Artazara sedikit mengernyit.
“Apakah semua prajurit selalu berbicara sekaku itu?”
Ardashir tampak bingung beberapa detik.
“Itu yang diajarkan kepada kami.”
Jawaban jujur itu justru membuat Artazara tersenyum kecil.
“Kalau begitu aku kasihan pada kalian.”
Untuk pertama kalinya Ardashir melihat senyum gadis itu dengan jelas.
Tidak dingin.
Tidak sombong.
Justru ada kehangatan aneh di balik ketenangannya.
Artazara melirik karung besar di bahu Ardashir.
“Rustom memang suka membuat orang menderita.”
“Katanya penderitaan membuat prajurit lebih kuat.”
“Kalau begitu para ibu di dapur kerajaan seharusnya menjadi jenderal.”
Ardashir tidak bisa menahan senyum kecilnya.
Dan entah kenapa, melihat pemuda itu tersenyum membuat Artazara ikut merasa lebih ringan.
Beberapa detik berlalu tanpa terasa canggung.
Artazara lalu bertanya,
“Kau berasal dari mana?”
“Desa kecil di selatan.”
“Dan kau meninggalkan semuanya untuk datang ke sini?”
Ardashir berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Aku tidak yakin meninggalkan adalah kata yang tepat.”
Artazara memperhatikannya.
“Kau masih memikirkan rumah?”
Ardashir mengangguk pelan.
“Setiap hari.”
Jawaban itu keluar begitu alami sampai Ardashir sendiri tidak menyadari betapa jujurnya ia terdengar.
Sebagian besar orang di kota selalu berusaha terlihat kuat.
Tetapi pemuda ini tidak takut mengakui bahwa ia merindukan seseorang.
Dan itu terasa… langka.
Artazara memandang permukaan kolam kecil di samping mereka.
“Aku lahir di kota ini,” katanya perlahan.
“Tapi anehnya kadang aku justru merasa tidak punya tempat untuk pulang.”
Ardashir menatapnya sedikit heran.
Bagaimana mungkin seorang putri jenderal merasa seperti itu?
Namun sebelum ia sempat bertanya, suara Rustom menggema dari kejauhan.
“ARDASHIR!”
Ardashir refleks berdiri tegak.
“Kalau kau masih hidup, lanjutkan pekerjaanmu!”
Artazara menahan tawa kecil.
Ardashir menunduk hormat sekali lagi.
“Aku harus pergi.”
Artazara mengangguk.
Namun sebelum Ardashir melangkah, ia berkata pelan,
“Aku senang akhirnya tahu nama pemuda yang menunggang kuda hitam itu.”
Ardashir berhenti sesaat.
Lalu untuk pertama kalinya sejak datang ke kota, ia benar-benar menatap mata Artazara.
“Aku juga senang mengetahui bahwa putri jenderal ternyata bisa bercanda.”
Artazara tampak sedikit terkejut.
Lalu tertawa kecil.
Dan suara tawanya entah kenapa terus teringat di kepala Ardashir sepanjang sore itu.
Malamnya, saat para peserta makan malam sederhana di barak, Vardan menyenggol bahu Ardashir keras-keras.
“Aku melihatmu.”
“Apa?”
“Jangan pura-pura bodoh. Putri jenderal itu berbicara denganmu.”
Ardashir mengambil roti tanpa banyak ekspresi.
“Dia hanya bertanya.”
“Ya tentu. Dan matahari hanya sekadar hangat.”
Beberapa pemuda lain mulai tertawa kecil.
Ardashir menggeleng.
“Kalian terlalu banyak membayangkan hal aneh.”
Vardan mendekat sambil berbisik dramatis,
“Hati-hati. Kisah seperti ini biasanya berakhir dengan dua kemungkinan.”
“Apa?”
“Menjadi legenda… atau dipenggal.”
Semua tertawa lebih keras.
Bahkan Ardashir akhirnya ikut tertawa kecil.
Namun beberapa saat kemudian, ketika suasana mulai tenang…
tanpa sadar pikirannya justru kembali pada Roxana.
Pada gadis desa yang mungkin saat ini sedang duduk di bawah pohon delima.
Dan tiba-tiba dada Ardashir terasa dipenuhi rasa bersalah yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.
Karena untuk pertama kalinya sejak meninggalkan desa…
ada perempuan lain yang mulai memenuhi pikirannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar