Malam turun perlahan di desa kecil itu.
Lampu-lampu minyak mulai menyala di balik dinding tanah liat rumah-rumah penduduk. Asap tipis dari tungku makan malam naik ke udara dingin, bercampur aroma roti hangat dan kayu terbakar.
Namun malam itu terasa berbeda.
Terlalu sunyi.
Seolah seluruh desa tahu bahwa sesuatu sedang berubah.
Di kandang belakang rumah, Ardashir sedang menyisir surai kuda hitamnya. Gerak tangannya lambat, seakan ia sengaja memperpanjang waktu.
Kuda itu sesekali mengibaskan ekor, lalu menempelkan kepalanya ke bahu Ardashir.
“Aku juga tidak ingin pergi,” gumam Ardashir pelan.
Suara langkah mendekat dari belakang.
Ayahnya.
Bahram membawa lentera kecil dari tembaga. Cahaya kuningnya membuat wajah pria tua itu tampak lebih lelah dari biasanya.
Beberapa saat mereka diam.
Hanya terdengar suara jangkrik dan napas kuda.
Bahram akhirnya berkata,
“Ketika aku seusiamu… aku juga pernah ingin meninggalkan desa.”
Ardashir menoleh sedikit.
“Tapi Ayah tidak pergi.”
Bahram tersenyum kecil.
“Aku jatuh cinta pada ibumu terlalu cepat.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Ardashir tertawa pelan.
Bahram mendekat ke kuda hitam itu, mengusap lehernya perlahan.
“Kuda ini tidak cocok untuk kandang kecil,” katanya.
“Dia selalu melihat jauh ke padang.”
Lalu ia memandang Ardashir.
“Sama seperti pemiliknya.”
Ardashir menunduk.
“Ayah ingin aku pergi?”
Bahram tidak langsung menjawab.
Ia duduk di bangku kayu kecil dekat kandang.
“Seorang ayah selalu ingin anaknya tetap dekat,” katanya pelan.
“Tapi lebih buruk lagi jika seorang ayah menahan takdir anaknya karena takut merasa kehilangan.”
Angin malam bertiup perlahan.
Api lentera bergoyang kecil.
Bahram melanjutkan,
“Kau lahir bukan untuk hidup kecil, Ardashir. Bahkan sejak kecil caramu memandang dunia sudah berbeda.”
“Tapi aku tidak ingin meninggalkan semuanya.”
“Kau tidak meninggalkan,” jawab Bahram.
“Kau membawa desa ini di dalam dirimu.”
Kalimat itu masuk pelan ke hati Ardashir.
Namun ada satu nama yang terus memenuhi pikirannya.
Roxana.
Bahram rupanya memahami tanpa perlu dijelaskan.
“Apa kau sudah berbicara dengannya?”
Ardashir menggeleng pelan.
Bahram tersenyum tipis.
“Kalau begitu jangan terlalu lama berdiri di sini. Gadis baik tidak seharusnya menunggu terlalu lama.”
Langit malam Persia penuh bintang.
Ardashir berjalan melewati jalan tanah desa yang mulai sepi.
Beberapa anjing tidur di dekat pintu rumah. Dari kejauhan terdengar suara seruling gembala yang samar tertiup angin.
Kakinya membawanya ke tempat yang sudah ia tahu bahkan tanpa berpikir.
Pohon delima itu.
Dan benar saja…
Roxana sudah ada di sana.
Ia duduk di bawah pohon sambil memeluk lututnya. Cahaya bulan jatuh lembut di rambutnya.
Di sampingnya ada sebuah bungkusan kain kecil.
Roxana menoleh ketika mendengar langkah Ardashir.
“Aku tahu kau akan datang,” katanya pelan.
Ardashir duduk di sampingnya.
Tidak terlalu dekat.
Namun juga tidak jauh.
Untuk beberapa saat mereka hanya memandang ladang yang diterangi cahaya bulan.
Malam terasa panjang… tetapi kata-kata terasa pendek.
Akhirnya Roxana membuka bungkusan kecil itu.
“Aku membuatkan ini.”
Di dalamnya ada kain tenun kecil berwarna merah tua, dengan jahitan sederhana berbentuk pohon delima.
Ardashir memandangnya lama.
“Aku tidak punya sesuatu sebagus ini untuk diberikan.”
Roxana tersenyum kecil.
“Aku tidak membuatnya supaya kau membalas.”
Ardashir menerima kain itu dengan sangat hati-hati, seolah benda itu lebih rapuh daripada kaca.
“Aku akan menyimpannya.”
“Aku tahu.”
Jawaban itu sederhana.
Namun justru karena itulah dada Ardashir terasa sesak.
Roxana lalu berkata pelan,
“Ayahku bilang… kota bisa mengubah seseorang.”
Ardashir segera menoleh.
“Aku tidak akan berubah.”
Roxana tersenyum lagi.
Kali ini lebih sedih.
“Semua orang berubah, Ardashir.”
Angin malam membuat beberapa bunga delima jatuh di antara mereka.
Roxana mengambil satu kelopak kecil di tanah.
“Tapi aku berharap,” katanya lirih,
“apa pun yang berubah nanti… kau masih ingat jalan pulang.”
Ardashir memandang wajah Roxana.
Dan saat itu ia menyadari sesuatu yang menakutkan:
ia bisa menghadapi perang, latihan keras, bahkan kematian…
tetapi ia tidak siap menghadapi kemungkinan kehilangan gadis ini.
Perlahan, tanpa banyak berpikir, Ardashir menggenggam tangan Roxana.
Tangan itu dingin karena udara malam.
Namun Roxana tidak melepaskannya.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada ciuman.
Hanya dua tangan yang saling menggenggam di bawah pohon delima, ditemani angin malam Persia.
Namun justru karena kesederhanaan itu…
malam itu terasa lebih intim daripada ribuan kata cinta.
“Aku akan kembali,” bisik Ardashir.
Roxana menatapnya lama.
Lalu menjawab sangat pelan,
“Aku akan menunggu.”
Dan untuk sesaat…
dunia terasa berhenti bergerak.
Keesokan paginya, matahari akan membawa Ardashir pergi menuju dunia yang belum pernah ia lihat.
Namun malam itu—
di bawah pohon delima—
dua hati muda diam-diam telah saling menyerahkan hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar