Rabu, 03 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (17)

 

Bab 17

Kabar dari Selatan



Musim panas mulai menyentuh kota Persia.

Tidak datang sekaligus.

Mula-mula hanya berupa angin kering yang bertiup lebih lama di siang hari. Lalu debu mulai lebih sering menempel pada jubah. Kemudian batu-batu jalan menyimpan panas sampai sore, seolah matahari tidak benar-benar pergi meski langit telah berubah jingga.

Di barak, para pemuda mulai belajar bahwa panas bisa menjadi musuh yang lebih sabar daripada manusia.

Pedang dapat dihindari.
Tombak dapat ditangkis.
Tetapi panas masuk ke kulit, ke napas, ke kepala, lalu pelan-pelan mengambil kekuatan tanpa suara.

Rustom tahu itu.

Maka hari itu ia tidak membawa mereka ke lapangan terbuka.

Ia membawa mereka ke bagian kota yang lebih rendah, dekat bangunan besar berdinding tebal dari tanah liat dan batu. Bentuknya tidak semegah istana, tetapi tampak aneh bagi Ardashir. Dindingnya tinggi, melengkung, dan sebagian bangunannya masuk ke dalam tanah.

Di sekitarnya ada kolam dangkal, saluran air kecil, dan lorong-lorong sempit yang terasa lebih sejuk daripada jalan utama.

Vardan menatap bangunan itu dengan wajah curiga.

“Kalau ini tempat hukuman, aku ingin mengatakan sejak awal bahwa aku tidak bersalah.”

Rustom menoleh.

“Kau selalu bersalah sebelum terbukti diam.”

Beberapa pemuda tertawa kecil.

Vardan menghela napas.

“Aku tidak pernah menang melawan orang ini.”

Rustom menunjuk bangunan di depan mereka.

“Ini tempat penyimpanan dingin.”

Ardashir mengernyit.

“Penyimpanan dingin?”

“Es, air, makanan, ramuan obat, dan beberapa persediaan yang tidak boleh rusak oleh panas.”

Para pemuda saling berpandangan.

Es?

Di kota yang mulai terbakar oleh musim panas?

Seorang penjaga tua membuka pintu kayu besar. Udara sejuk langsung keluar dari dalam bangunan. Tidak sedingin pegunungan, tetapi cukup membuat para pemuda terdiam.

Mereka masuk perlahan.

Bagian dalamnya lebih rendah dari permukaan tanah. Dindingnya tebal. Di beberapa sudut terdapat ruang penyimpanan berlapis jerami dan tanah padat. Saluran air mengalir kecil di sisi ruangan, membawa hawa lembap yang membuat udara tidak terlalu kering.

Ardashir menyentuh dindingnya.

Sejuk.

Rustom berkata,

“Orang bodoh mengira melawan panas cukup dengan mengutuk matahari. Orang cerdas membuat bangunan yang memahami panas.”

Vardan berbisik kepada Ardashir,

“Kalau begitu aku selama ini termasuk orang pertama.”

Ardashir menahan senyum.

Rustom melanjutkan,

“Persia tidak hanya hidup dari pedang. Ia hidup dari cara manusia membaca alam. Air disembunyikan di bawah tanah melalui qanat. Angin diarahkan melalui lorong dan menara. Makanan disimpan di ruang tebal agar tidak rusak. Es dari musim dingin dijaga agar bisa berguna saat musim panas.”

Seorang pemuda bertanya,

“Untuk pasukan juga, Tuan?”

“Untuk semua,” jawab Rustom. “Untuk istana, untuk rumah-rumah besar, untuk pengobatan, untuk perjalanan jauh, dan untuk persediaan. Prajurit yang sakit karena makanan busuk tidak lebih berguna daripada tombak patah.”

Ardashir berdiri diam.

Ia mulai memahami pola yang sama.

Air.
Jalan.
Gudang.
Peta.
Kurir.
Penyimpanan dingin.

Semua itu seperti benang-benang yang tidak terlihat, tetapi mengikat kerajaan besar agar tidak tercerai-berai.

Rustom memandang para pemuda.

“Ingat ini. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang bisa mengalahkan musuh. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa membuat hidup tetap berjalan ketika alam sendiri tampak tidak bersahabat.”

Kalimat itu masuk ke hati Ardashir.

Ia teringat desa.

Teringat ayah Roxana yang membagi air dengan hati-hati.

Teringat mangkuk kecil yang mengukur giliran air.

Teringat Roxana, yang mungkin saat ini sedang berjalan di bawah matahari desa, membawa kendi, menahan rindu, dan tetap tersenyum kepada orang-orang.

Mendadak kota yang besar itu terasa penuh suara.

Namun hatinya mendengar satu kesunyian dari jauh.


Sore harinya, setelah latihan selesai, Ardashir pergi ke pasar.

Ia tidak mengatakan kepada siapa pun, kecuali Vardan.

“Aku hanya ingin melihat apakah rombongan pedagang selatan sudah kembali,” katanya.

Vardan mengangguk.

Kali ini ia tidak menggoda.

“Pergilah.”

Ardashir menatapnya sejenak.

“Kau tidak punya lelucon?”

“Ada. Tapi aku simpan. Urusan rindu sebaiknya tidak selalu ditertawakan.”

Ardashir tersenyum.

“Kau mulai bijaksana.”

“Jangan sebarkan kabar buruk itu.”

Ardashir tertawa pelan, lalu berjalan menuju pasar.

Pasar sore lebih ramai daripada biasanya. Pedagang kurma, pembuat tembikar, penjual minyak, tukang sepatu, pembawa air, dan para penggembala memenuhi jalan sempit di antara kios-kios kain.

Ardashir mencari wajah pedagang yang ia titipi surat.

Ia berjalan dari satu gerobak ke gerobak lain.

Sampai akhirnya ia melihat pria itu.

Pedagang kain dari selatan sedang menurunkan gulungan kain dari punggung keledai. Wajahnya tampak lebih gelap karena perjalanan, tetapi senyumnya masih sama.

Ardashir mendekat.

“Salam.”

Pedagang itu menoleh.

Lalu tersenyum lebar.

“Ah, pemuda surat cinta.”

Ardashir menahan malu.

“Apakah suratku sampai?”

Pedagang itu tidak langsung menjawab. Ia mengikat tali barang, lalu berdiri.

“Sampai.”

Satu kata itu membuat napas Ardashir seperti kembali ke tubuhnya.

“Kau memberikannya langsung?”

“Kepada gadis bernama Roxana. Di dekat pohon delima besar, seperti pesanmu.”

Ardashir terdiam.

Ia membayangkan Roxana menerima tabung kulit itu.

Membuka suratnya.

Membaca kalimat-kalimat yang ia tulis dengan tangan gemetar.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Ardashir pelan.

Pedagang itu memandangnya lebih lembut.

“Ia sehat.”

Hanya itu.

Namun bagi Ardashir, kata itu seperti air di tengah perjalanan panjang.

“Ia berkata sesuatu?”

“Tidak banyak. Ia berterima kasih. Tapi matanya mengatakan lebih banyak daripada mulutnya.”

Ardashir menunduk.

Ada rasa hangat yang naik ke dadanya.

Pedagang itu lalu mengambil sesuatu dari kantong kecil.

“Ini bukan surat panjang. Tetapi ia menitipkan ini.”

Ardashir menerima bungkusan kecil dari kain putih.

Tangannya berhenti ketika membukanya.

Di dalamnya ada sehelai benang merah yang dipilin rapi, diikat bersama potongan kecil kain dengan jahitan sederhana: bentuk daun delima.

Tidak ada banyak tulisan.

Hanya selembar kecil kertas dengan beberapa kata.

Suratmu sampai.

Aku membacanya di bawah pohon delima.

Aku tidak lupa.

Ardashir membaca kalimat itu berulang-ulang.

Tidak lupa.

Dua kata itu ternyata bisa membuat seorang calon prajurit merasa lebih kuat daripada semua latihan tombak yang pernah ia jalani.

Pedagang itu kemudian berkata lebih pelan,

“Ada satu hal lagi.”

Ardashir mengangkat wajah.

“Apa?”

“Aku bukan orang yang suka mencampuri urusan hati orang muda. Tapi kau memintaku memastikan surat itu sampai. Maka aku merasa perlu memastikan kabar lain juga sampai.”

Dada Ardashir menegang.

Pedagang itu melanjutkan,

“Di desa itu ada seorang pemuda bernama Mehrdad. Anak keluarga pengelola lumbung. Ia tampak baik. Orang-orang menyebutnya sopan. Aku mendengar keluarganya beberapa kali berbicara dengan keluarga Roxana.”

Ardashir diam.

Suara pasar mendadak terasa jauh.

“Berbicara tentang apa?”

Pedagang itu menarik napas.

“Belum lamaran resmi, setahuku. Tetapi orang desa tahu arah pembicaraan semacam itu.”

Ardashir menggenggam bungkusan kecil di tangannya.

Tidak marah.

Tidak bisa marah.

Sebab ia sendiri pergi.

Ia sendiri belum pulang.

Ia sendiri baru mengirim satu surat setelah berbulan-bulan diam.

Pedagang itu menatapnya dengan hati-hati.

“Gadis itu tidak tampak seperti orang yang telah memilih orang lain. Tapi kau juga tahu, hidup di desa tidak selalu menunggu hati selesai berbicara.”

Ardashir mengangguk pelan.

“Terima kasih sudah memberitahuku.”

Pedagang itu tampak lega.

“Kau pemuda baik. Aku hanya berharap kau tidak terlalu lama membiarkan orang baik menebak-nebak.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi rasanya seperti mata tombak yang diletakkan pelan di dada.


Ardashir kembali ke barak saat langit mulai gelap.

Di tangannya masih ada bungkusan kecil dari Roxana.

Benang merah itu ia simpan bersama kain pemberian Roxana yang lama.

Dua benda kecil dari desa.

Dua tanda bahwa di tempat jauh, masih ada hati yang menjaga ingatan.

Namun kini di samping ingatan itu, ada nama baru.

Mehrdad.

Ardashir duduk di dekat jendela barak.

Vardan datang tanpa suara dan duduk di sampingnya.

“Kabar baik?” tanya Vardan.

“Suratku sampai.”

“Itu baik.”

“Ia menitipkan tanda.”

“Itu lebih baik.”

Ardashir diam.

Vardan memperhatikan wajahnya.

“Tapi ada sesuatu.”

Ardashir mengangguk.

“Ada pemuda di desa. Namanya Mehrdad. Keluarganya mulai mendekati keluarga Roxana.”

Vardan tidak langsung bercanda.

Ia hanya menarik napas panjang.

“Apakah dia orang buruk?”

“Tidak tahu. Tapi dari kabar yang kudengar, tidak.”

“Lebih sulit kalau begitu.”

Ardashir menoleh.

“Mengapa?”

“Kalau dia buruk, kau bisa membencinya dan merasa benar. Kalau dia baik, kau harus menghadapi kenyataan dengan lebih jujur.”

Ardashir tersenyum pahit.

“Kau benar-benar mulai bijaksana. Ini mengganggu.”

Vardan mengangkat bahu.

“Aku juga tidak suka. Tapi hidup kadang memaksa orang lucu mengatakan hal benar.”

Mereka sama-sama diam.

Lalu Vardan berkata,

“Kau mencintai Roxana?”

Pertanyaan itu tidak keras.

Tidak menggoda.

Ardashir memandang langit di luar jendela.

“Ya.”

“Maka jangan hanya mencintainya dalam diam. Diam itu indah dalam syair, tapi dalam hidup nyata kadang membuat orang lain kelelahan.”

Ardashir menunduk.

“Aku belum bisa pulang.”

“Tidak semua keberanian berbentuk pulang,” kata Vardan. “Kadang keberanian berbentuk mengatakan kebenaran sebelum terlambat.”

Ardashir menggenggam benang merah itu.

Ia tahu Vardan benar.

Tetapi ia juga tahu, jalan di depan tidak sederhana.

Ia masih terikat pelatihan.
Ia belum tahu tugas apa yang menunggu.
Ia belum tahu kapan kerajaan akan memanggilnya ke medan sebenarnya.

Dan di kota ini, ada Artazara.

Bukan sebagai godaan yang buruk.

Melainkan sebagai kebaikan lain yang tumbuh di dekatnya.

Itulah yang membuat hatinya harus lebih dijaga.


Malam itu Ardashir tidak bisa tidur.

Ia keluar dari barak dan berjalan menuju halaman kecil di dekat taman timur.

Udara malam lebih sejuk.

Saluran air mengalir pelan, memantulkan cahaya bulan.

Di sana, tanpa diduga, Artazara berdiri sendirian.

Ia mengenakan jubah tipis berwarna biru gelap. Tidak ada pengawal dekat, hanya seorang pelayan perempuan yang berdiri agak jauh di bawah lengkung lorong.

Artazara menoleh ketika mendengar langkah.

“Ardashir?”

Ia menunduk hormat.

“Maaf. Aku tidak tahu Putri ada di sini.”

“Tidak apa-apa.”

Ardashir hendak pergi, tetapi Artazara memperhatikan wajahnya.

“Kau tampak seperti membawa kabar yang berat.”

Ardashir berhenti.

Beberapa saat ia ragu.

Namun kemudian ia berkata jujur,

“Aku mendapat kabar dari desa.”

Artazara tidak bergerak.

“Dari Roxana?”

Nama itu akhirnya terucap di antara mereka.

Pelan.

Tertib.

Tetapi jelas.

Ardashir memandang Artazara.

“Ya.”

“Apa kabarnya?”

“Suratku sampai. Ia mengirim tanda bahwa ia tidak lupa.”

Artazara tersenyum.

Kecil.

Tulus.

Meskipun matanya menyimpan sesuatu yang ia tahan dengan sangat hati-hati.

“Itu kabar baik.”

“Ya.”

“Tetapi bukan hanya itu.”

Ardashir menarik napas.

“Ada pemuda di desa. Keluarganya mulai mendekati keluarga Roxana.”

Artazara terdiam.

Angin malam menggerakkan ujung jubahnya.

“Apakah ia mencintai pemuda itu?”

“Aku tidak tahu.”

“Apakah pemuda itu orang jahat?”

“Sepertinya tidak.”

Artazara menatap air yang mengalir di saluran kecil.

“Takdir sering lebih rumit ketika semua orang berusaha menjadi baik.”

Kalimat itu membuat Ardashir menoleh kepadanya.

Artazara melanjutkan,

“Kalau salah satu dari kita curang, mungkin cerita ini mudah. Yang curang disalahkan, yang setia dimuliakan, yang terluka dikasihani. Tetapi hidup tidak selalu memberi kita kemudahan semacam itu.”

Ia menatap Ardashir.

“Kadang semua orang menjaga kehormatan, namun tetap ada hati yang harus terluka.”

Ardashir merasa kata-kata itu seperti cermin.

Sebab ia tahu Artazara tidak hanya berbicara tentang Roxana dan Mehrdad.

Ia juga berbicara tentang dirinya sendiri.

Tentang perasaannya yang mulai tumbuh kepada Ardashir.

Tentang batas yang ia pilih untuk tidak lewati.

Tentang kebaikan yang justru membuat luka lebih sunyi.

“Aku tidak ingin menyakiti siapa pun,” kata Ardashir.

Artazara tersenyum sedih.

“Itu keinginan yang mulia. Tetapi mustahil jika hati manusia sudah berjalan pada arah yang berbeda.”

Ardashir menunduk.

“Apa yang harus kulakukan?”

Artazara tidak langsung menjawab.

Ia memandang bulan yang terpantul di air.

“Pertama, jangan bersembunyi di balik kebingungan.”

Ardashir diam.

“Kedua, jangan menjadikan tugas sebagai alasan untuk membiarkan hati orang lain menunggu tanpa suara.”

Ia menoleh kepada Ardashir.

“Dan ketiga, jangan menawarkan hatimu kepada siapa pun sebelum kau tahu bagian mana dari hatimu yang masih terikat janji.”

Ardashir menerima kata-kata itu seperti seseorang menerima obat pahit.

Tidak enak.

Tetapi benar.

“Lalu bagaimana denganmu?” tanyanya pelan.

Artazara memejamkan mata sebentar.

Ketika ia membukanya, wajahnya tetap tenang.

“Aku akan menjaga diriku.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi di baliknya ada keberanian besar.

“Aku tidak ingin mencintai dengan cara yang membuatku kehilangan kehormatan,” lanjut Artazara. “Dan aku tidak ingin dicintai oleh seseorang yang sedang berusaha melupakan perempuan lain.”

Ardashir memandangnya lama.

Ia merasa hormat kepada Artazara dengan cara yang semakin dalam.

Mungkin justru karena ia tidak meminta.

Mungkin karena ia tidak mengambil kesempatan ketika Ardashir sedang goyah.

Mungkin karena ia memilih terluka sedikit hari ini daripada melukai lebih banyak orang esok hari.

“Artazara,” kata Ardashir pelan, tanpa gelar.

Itu pertama kalinya ia menyebut nama gadis itu begitu saja.

Artazara menatapnya.

“Aku berutang banyak padamu.”

“Jangan berutang,” jawabnya lembut. “Cukup jadilah jujur.”

Beberapa saat mereka berdiri dalam diam.

Tidak ada kata cinta.

Tidak ada janji.

Tidak ada sentuhan.

Namun malam itu, sesuatu di antara mereka menjadi lebih jelas.

Bukan menjauh.

Tetapi menjadi lebih terhormat.


Keesokan paginya, Ardashir meminta izin kepada Rustom untuk menulis surat balasan.

Rustom menatapnya seolah ia baru saja meminta cuti untuk menanam bunga.

“Surat?”

“Ya, Tuan.”

“Kepada siapa?”

Ardashir menjawab jujur,

“Kepada seseorang di desa.”

Beberapa pemuda di dekat mereka pura-pura tidak mendengar, tetapi telinga mereka tampak bekerja lebih keras dari biasanya.

Rustom menyipitkan mata.

“Apakah surat itu akan membuatmu lebih bodoh dalam latihan?”

“Tidak, Tuan.”

“Apakah ia akan membuatmu lebih lambat mengangkat tombak?”

“Tidak, Tuan.”

“Apakah ia akan membuatmu berhenti berpikir seperti kambing tersesat?”

Ardashir ragu.

“Aku akan berusaha, Tuan.”

Rustom mendengus.

“Kalau begitu tulislah setelah tugas selesai. Prajurit yang hatinya kacau sering lebih berbahaya bagi dirinya sendiri daripada bagi musuh.”

Ardashir menunduk.

“Terima kasih, Tuan.”

Rustom berjalan pergi.

Namun sebelum terlalu jauh, ia berkata tanpa menoleh,

“Dan tulislah dengan jelas. Perempuan yang baik tidak pantas menerima kalimat pengecut.”

Ardashir terdiam.

Vardan yang berdiri di belakangnya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

“Aku tidak punya komentar,” katanya akhirnya. “Rustom baru saja memenangkan semua percakapan hari ini.”


Malam itu, Ardashir menulis di bawah cahaya lentera.

Bukan surat panjang penuh hiasan.

Bukan syair yang bersembunyi dari kenyataan.

Ia menulis dengan hati yang lebih berani.

Roxana,

Tanda darimu telah sampai.

Aku membacanya berkali-kali sampai aku hafal setiap katanya.

Aku senang kau tidak lupa.

Tetapi aku tidak ingin hanya membuatmu menunggu dalam kabar yang jarang dan janji yang samar.

Aku belum bisa pulang sekarang. Aku masih terikat pelatihan dan tugas. Tetapi aku ingin kau tahu dengan jujur: aku mencintaimu.

Tangannya berhenti.

Ia menarik napas.

Kalimat itu akhirnya keluar.

Tidak lagi hanya di bawah pohon delima.
Tidak lagi hanya di dalam hati.
Tidak lagi hanya tersimpan sebagai rindu yang takut berjalan.

Ia melanjutkan.

Aku mencintaimu bukan karena kau menungguku.

Aku mencintaimu karena sejak kecil, bersamamu aku merasa menjadi diriku yang paling benar.

Namun aku juga tidak ingin cintaku menjadi rantai bagi hidupmu.

Jika suatu hari menunggu membuatmu terluka terlalu dalam, aku tidak akan menyalahkanmu karena memilih jalan yang membuatmu dihormati dan dijaga.

Tetapi selama masih ada ruang di hatimu untukku, izinkan aku berjuang agar suatu hari bisa kembali dengan wajah yang pantas menatapmu.

Ardashir menunduk.

Air matanya tidak jatuh.

Tetapi matanya panas.

Lalu ia menulis syair pendek:

Aku tidak meminta waktumu berhenti,
sebab waktu adalah milik Tuhan.

Aku hanya menitipkan namaku
di tepi doamu,
jika suatu hari angin desa
masih menyebutku pelan.

Bila aku pulang,
semoga bukan hanya tubuhku yang kembali,
tetapi juga kehormatanku.

Ia membaca surat itu sekali.

Lalu melipatnya.

Kali ini tidak ada keraguan seperti sebelumnya.

Surat itu bukan janji kosong.

Surat itu adalah kejujuran.

Dan bagi Ardashir, kejujuran adalah satu-satunya jalan yang masih bisa ia tempuh tanpa mengkhianati siapa pun.


Jauh di desa, Roxana belum tahu bahwa surat kedua sedang ditulis untuknya.

Malam itu ia duduk bersama ibunya, menyulam kain kecil di bawah cahaya lampu minyak.

Ayahnya berbicara dengan tamu di ruang depan.

Suara laki-laki terdengar pelan.

Sopan.

Teratur.

Roxana mengenali salah satunya.

Ayah Mehrdad.

Ibunya memperhatikan tangan Roxana yang berhenti menyulam.

“Teruskan,” kata ibunya lembut.

Roxana mencoba kembali menggerakkan jarum.

Namun telinganya menangkap beberapa kata dari ruang depan.

“...keluarga baik...”
“...tidak tergesa-gesa...”
“...hanya ingin membuka pembicaraan...”
“...Roxana anak yang terhormat...”

Jarum di tangan Roxana menusuk ujung jarinya.

Ia menarik napas kecil.

Ibunya segera memegang tangannya.

“Tidak apa-apa?”

Roxana mengangguk.

Namun hatinya bergetar.

Bukan karena ia membenci Mehrdad.

Justru karena ia tahu Mehrdad baik.

Dan kebaikan orang lain kadang membuat pilihan menjadi lebih berat.

Ibunya memandangnya dengan lembut.

“Belum ada keputusan apa pun.”

Roxana menunduk.

“Aku tahu.”

“Kalau waktunya tiba, suaramu akan didengar.”

Roxana mengangkat wajah.

“Benarkah?”

Ibunya menggenggam tangannya.

“Di rumah ini, iya.”

Kalimat itu membuat mata Roxana berkaca-kaca.

Di luar, pohon delima bergerak pelan diterpa angin malam.

Seolah ia pun mendengar bahwa sebuah babak baru mulai mendekat.


Malam itu, di dua tempat yang jauh, dua hati sama-sama terjaga.

Di kota, Ardashir menyegel surat keduanya dengan tangan yang lebih mantap.

Di desa, Roxana menyimpan surat pertama di dekat dadanya sambil mendengar percakapan tentang masa depannya.

Di antara mereka terbentang jalan, bukit, gurun, pasar, pos kurir, dan waktu.

Namun kini cinta mereka tidak lagi hanya diam.

Ia telah mulai berbicara.

Dan ketika cinta mulai berbicara dengan jujur, dunia pun mulai menuntut jawaban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar