Bab 8
Kota Para Prajurit
Gerbang kota Persia terbuka perlahan.
Suara kayu besar dan rantai besi bergema di udara pagi.
Ardashir menuntun kudanya melewati gerbang bersama rombongan pemuda desa lainnya. Begitu masuk, dunia seperti berubah dalam sekejap.
Segalanya bergerak.
Pedagang berteriak menawarkan kain dan rempah. Kereta kayu melintas membawa gandum. Tentara berkuda melaju cepat di jalan batu. Aroma roti panggang bercampur dengan bau logam, debu, dan keringat manusia.
Ardashir menoleh ke segala arah.
Matanya mencoba menangkap semuanya sekaligus.
Bangunan-bangunan tinggi dari batu membuatnya merasa seperti anak kecil. Bahkan suara langkah orang pun berbeda di kota ini—lebih cepat, lebih keras, lebih terburu-buru.
Vardan tertawa kagum di sampingnya.
“Kalau ibuku melihat tempat ini, dia pasti pingsan.”
Ardashir tersenyum kecil.
Namun di dalam hatinya ada perasaan aneh.
Kota ini indah.
Tetapi juga terasa dingin.
Mereka dibawa menuju kompleks pelatihan militer di sisi timur kota.
Tempat itu dikelilingi tembok batu tinggi. Di dalamnya terdengar:
benturan pedang kayu
teriakan latihan
derap kaki kuda
aba-aba komandan
Puluhan pemuda dari berbagai wilayah Persia sudah berada di sana.
Sebagian anak bangsawan.
Sebagian anak petani.
Namun di tempat itu, semua memakai pakaian latihan yang sama.
Tidak ada yang diperlakukan istimewa.
Seorang pria tinggi bertubuh besar berjalan mendekat.
Wajahnya keras seperti batu.
Bekas luka panjang terlihat di pipinya.
“Aku Rustom,” katanya singkat.
“Mulai hari ini, kalian milik disiplin.”
Tidak ada yang berani bicara.
Rustom berjalan di depan mereka perlahan seperti singa yang sedang memilih mangsa.
“Kalian datang dengan mimpi menjadi pahlawan.”
Ia berhenti.
“Sebagian besar dari kalian akan menangis sebelum bulan pertama selesai.”
Beberapa pemuda tertawa gugup.
Rustom tidak tersenyum.
“Besok pagi sebelum matahari terbit kalian sudah berada di lapangan latihan. Yang terlambat… pulang.”
Hari-hari berikutnya terasa seperti badai.
Mereka bangun sebelum fajar.
Latihan dimulai bahkan saat udara masih sangat dingin.
Mereka belajar:
menunggang kuda perang
memanah sambil berkuda
bertarung dengan tombak
disiplin barisan
bertahan tanpa tidur panjang
Tubuh Ardashir penuh lebam.
Tangannya melepuh.
Namun ia tidak mengeluh.
Justru ketika berada di atas kuda, sesuatu di dalam dirinya terasa hidup.
Rustom mulai memperhatikannya.
Suatu pagi saat latihan tombak berkuda, seorang peserta kehilangan kendali kudanya dan hampir menabrak barisan lain.
Tanpa berpikir panjang, Ardashir memacu kudanya, memotong arah, lalu menarik tali kekang kuda itu sebelum terjadi tabrakan.
Semua terjadi sangat cepat.
Lapangan menjadi sunyi sesaat.
Rustom memandang Ardashir lama.
“Kau anak peternak?”
“Ya.”
“Hm.”
Hanya itu.
Namun bagi para peserta lain, perhatian dari Rustom seperti itu bukan hal kecil.
Sejak hari itu beberapa orang mulai memperhatikan Ardashir lebih serius.
Sebagian kagum.
Sebagian iri.
Malam hari di barak jauh lebih sunyi.
Para pemuda biasanya terlalu lelah untuk bicara panjang.
Tubuh mereka ambruk begitu menyentuh tikar tidur.
Namun Ardashir sering masih terjaga.
Ia duduk dekat jendela kecil barak, memandang langit malam kota Persia.
Langit itu sama seperti di desa.
Bintang-bintangnya sama.
Namun entah kenapa terasa lebih jauh.
Ia mengeluarkan kain merah kecil dari balik pakaiannya.
Tangannya menyentuh jahitan pohon delima perlahan.
Kadang ia membayangkan Roxana sedang melakukan hal yang sama di desa.
Memandang langit yang sama.
Memikirkan dirinya.
Dan anehnya…
pikiran itu membuat rasa lelahnya sedikit berkurang.
Suatu sore setelah latihan berat, para peserta diberi waktu istirahat di halaman dalam.
Ardashir sedang memberi minum kudanya ketika terdengar suara gaduh kecil dari arah gerbang.
Beberapa pengawal kerajaan masuk.
Di belakang mereka berjalan seorang gadis muda berpakaian biru tua dengan bordir emas halus.
Langkahnya tenang.
Matanya tajam memperhatikan lapangan latihan.
Beberapa peserta langsung menundukkan kepala hormat.
Vardan berbisik pelan,
“Itu putri Jenderal Artaban…”
Ardashir menoleh sekilas.
Gadis itu tampak berbeda dari perempuan-perempuan kota yang pernah ia lihat sejak tiba di Persia.
Tidak banyak perhiasan.
Tidak banyak senyum dibuat-buat.
Tatapannya justru lebih mirip seorang pengamat perang daripada putri bangsawan.
Saat melewati lapangan, matanya berhenti sebentar pada Ardashir.
Hanya sebentar.
Namun cukup lama untuk membuat Ardashir merasa aneh.
Gadis itu kemudian melanjutkan langkahnya bersama para pengawal.
Vardan menyenggol pelan lengan Ardashir.
“Kau lihat itu?”
“Apa?”
“Dia memperhatikanmu.”
Ardashir kembali memberi minum kudanya.
“Mungkin kau terlalu banyak terkena matahari.”
Vardan tertawa kecil.
Namun beberapa langkah di kejauhan…
gadis itu sempat menoleh sekali lagi.
Dan untuk alasan yang bahkan belum ia pahami sendiri—
ia mulai mengingat wajah pemuda desa itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar