Senin, 01 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (18)

 

Bab 18

Pengakuan di Menara Api



Surat kedua Ardashir berangkat pada pagi yang tenang.

Tidak melalui kurir kerajaan.

Tidak melalui pos resmi dengan segel lilin merah dan kuda-kuda terbaik milik istana.

Surat itu berangkat dengan cara sederhana: dititipkan kepada seorang pedagang minyak yang hendak menuju selatan, melewati desa-desa kecil, pasar mingguan, dan jalan tanah yang lebih mengenal langkah keledai daripada derap kuda perang.

Namun bagi Ardashir, justru itulah yang membuatnya lega.

Surat itu tidak membawa perintah raja.
Tidak membawa rencana pasukan.
Tidak membawa kabar pajak, gudang, atau benteng.

Surat itu hanya membawa satu hal yang lama ia tahan:

kejujuran.

Dan kadang, kejujuran lebih berat daripada pesan kerajaan.


Hari itu Rustom membawa para calon prajurit ke bukit batu di luar kota.

Di atas bukit itu berdiri sebuah menara tinggi dari batu kasar. Bentuknya tidak seindah istana, tetapi kokoh. Di puncaknya ada tempat pembakaran besar dari logam, dengan kayu kering, minyak, dan kain-kain tebal yang sudah disiapkan.

Beberapa penjaga menara tinggal di bangunan kecil di bawahnya.

Vardan menatap menara itu sambil menahan napas.

“Kalau hari ini kita disuruh membawa batu ke puncak, aku akan pura-pura jadi orang sakit.”

Rustom yang berjalan di depan langsung berkata tanpa menoleh,

“Kau tidak perlu pura-pura. Wajahmu sudah cukup meyakinkan.”

Beberapa pemuda tertawa.

Vardan mengeluh pelan,

“Aku mulai curiga Rustom sebenarnya menyayangiku, hanya saja caranya seperti memukul kambing.”

Ardashir tersenyum kecil.

Mereka berhenti di kaki menara.

Rustom menghadap para pemuda.

“Hari ini kalian belajar tentang kabar yang harus sampai lebih cepat daripada kuda.”

Seorang pemuda mengangkat tangan.

“Lebih cepat daripada kuda, Tuan?”

Rustom menunjuk puncak menara.

“Api.”

Para pemuda menoleh ke atas.

Rustom melanjutkan,

“Di jalan kerajaan, pesan dibawa kurir. Tetapi tidak semua kabar punya waktu untuk menunggu perjalanan. Jika benteng perbatasan melihat serangan mendadak, mereka tidak bisa menunggu orang berkuda menempuh jarak berhari-hari.”

Ia mengambil sepotong arang dan menggambar garis di tanah.

“Karena itu dibangun menara-menara tinggi di bukit dan tempat terbuka. Pada siang hari, asap dapat dilihat dari jauh. Pada malam hari, api menjadi tanda. Satu menara menyalakan tanda, menara berikutnya melihat, lalu meneruskan. Begitu seterusnya.”

Ardashir memandang puncak menara itu dengan kagum.

Api yang berbicara dari bukit ke bukit.

Persia seakan memiliki mata di tempat jauh dan suara di atas langit.

Rustom melanjutkan,

“Tentu tidak semua pesan bisa dijelaskan dengan api. Api tidak bisa mengatakan isi hati seseorang.”

Vardan berbisik kepada Ardashir,

“Sayang sekali. Kalau bisa, hidupmu lebih mudah.”

Ardashir menahan senyum, tetapi tidak menjawab.

Rustom menatap tajam ke arah mereka.

“Namun api bisa mengatakan hal penting: bahaya datang, pasukan bergerak, kota harus siaga, atau gerbang harus ditutup.”

Ia menunjuk kayu dan minyak di dekat puncak menara.

“Teknologi tidak selalu berupa sesuatu yang rumit. Kadang ia hanya cara sederhana yang dipikirkan dengan sangat serius.”

Kalimat itu membuat Ardashir terdiam.

Cara sederhana yang dipikirkan dengan sangat serius.

Bukankah cinta juga begitu?

Sebuah surat.
Sebuah kain kecil.
Sebuah janji di bawah pohon.
Hal-hal sederhana, tetapi jika dijaga dengan sungguh-sungguh, bisa menghubungkan dua hati yang terpisah jarak.


Para pemuda bergantian naik ke puncak menara.

Dari atas sana, kota Persia terlihat luas.

Temboknya melingkar seperti lengan besar yang memeluk kehidupan di dalamnya. Jalan kerajaan tampak memanjang keluar dari gerbang, menyusuri lembah, lalu menghilang di kejauhan. Ladang-ladang kecil terlihat seperti anyaman kuning dan hijau.

Ardashir berdiri di puncak menara, memandang arah selatan.

Di sana, jauh melewati bukit, jalan, pasar, dan desa-desa, ada Roxana.

Mungkin saat itu ia sedang membantu ibunya.

Mungkin sedang menenun.

Mungkin sedang membaca ulang surat pertamanya.

Atau mungkin sedang mendengar pembicaraan tentang Mehrdad dan masa depan yang perlahan mendekat.

Ardashir menggenggam pagar batu menara.

Ia sudah mengirim surat kedua.

Tetapi surat membutuhkan waktu.

Dan dalam waktu, banyak hal dapat berubah.

Vardan berdiri di sampingnya.

“Arah selatan?” tanyanya.

Ardashir mengangguk.

Vardan memandang jauh.

“Kalau rindu bisa jadi asap, hari ini seluruh kerajaan pasti tahu isi hatimu.”

Ardashir tertawa pelan.

“Untung tidak bisa.”

“Belum tentu. Kadang orang butuh melihat asap agar tahu ada api.”

Ardashir menoleh kepadanya.

Vardan mengangkat bahu.

“Aku hanya berkata begitu supaya terdengar bijak.”

“Berhasil.”

“Syukurlah. Aku akan mengulanginya nanti di depan gadis pasar.”


Di tempat lain, tidak jauh dari menara, Artazara datang bersama Farrokh dan dua pengawal.

Ia membawa beberapa gulungan catatan tentang urutan menara, jarak antar pos, dan waktu perkiraan tanda api sampai ke kota.

Rustom mendekatinya.

“Putri.”

“Rustom.”

Farrokh yang berjalan di belakang menghela napas.

“Setiap kali kalian berdua saling menyapa, udara menjadi terlalu kaku.”

Rustom menatapnya.

“Farrokh.”

“Ya, ya. Aku diam.”

Artazara tersenyum kecil.

Ardashir melihatnya dari puncak menara.

Di bawah cahaya siang, Artazara tampak berbeda dari malam sebelumnya. Wajahnya tenang. Langkahnya pasti. Di tangannya, peta dan catatan tampak seperti bagian alami dari dirinya.

Ia bukan hanya putri jenderal.

Ia adalah seseorang yang memahami denyut kerajaan.

Dan Ardashir menghormatinya.

Semakin hari, rasa hormat itu tumbuh menjadi sesuatu yang harus ia perhatikan dengan hati-hati.

Sebab ada kekaguman yang tidak berbahaya.

Namun ada juga kekaguman yang jika dibiarkan terlalu hangat, bisa menjadi pintu bagi hati untuk tersesat.


Menjelang sore, latihan selesai.

Para pemuda kembali turun ke kota. Namun Ardashir diminta Rustom tinggal sebentar untuk membantu memeriksa catatan jarak dan waktu tanda dari menara.

Artazara juga masih berada di sana.

Farrokh duduk di bawah bayangan dinding, mengeluh tentang lututnya yang menurutnya lebih tua daripada kerajaan.

“Anak muda selalu menganggap bukit sebagai tempat yang indah,” gerutunya. “Padahal bagi orang tua, bukit hanyalah tangga panjang yang menyamar menjadi pemandangan.”

Artazara tertawa pelan.

“Kau sendiri yang ingin ikut.”

“Aku ikut karena tidak percaya kalian membaca catatanku dengan benar.”

Rustom mendengus.

“Kepercayaanmu kepada manusia selalu rendah.”

“Karena manusia sering salah menaruh angka.”

Ardashir menahan senyum.

Mereka bekerja sampai matahari hampir tenggelam.

Ketika Farrokh dan Rustom akhirnya berjalan lebih dulu menuju bangunan penjaga, Ardashir tinggal sebentar di dekat tangga menara untuk menggulung peta.

Artazara berdiri tidak jauh darinya, memandang matahari yang turun di balik pegunungan.

Cahaya jingga menyentuh wajahnya.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Lalu Artazara berkata pelan,

“Suratmu sudah berangkat?”

Ardashir menoleh.

“Ya.”

“Kepada Roxana?”

“Ya.”

Artazara mengangguk.

“Aku senang.”

Ardashir memandangnya.

“Benarkah?”

Artazara tersenyum kecil, tetapi tidak langsung menjawab.

Angin sore bergerak di antara mereka.

“Senang bukan berarti mudah,” katanya akhirnya.

Ardashir tidak berkata apa-apa.

Artazara melanjutkan,

“Tapi aku sungguh senang kau memilih kejujuran.”

Ardashir menunduk sedikit.

“Aku banyak belajar dari orang-orang di sekitarku.”

“Dari Rustom?”

“Dari Rustom, Farrokh, Vardan.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan darimu.”

Artazara memandangnya.

Ada sesuatu yang bergetar halus di matanya.

“Jangan berkata begitu terlalu lembut, Ardashir.”

Suara itu tidak marah.

Hanya jujur.

Ardashir terdiam.

Artazara menarik napas pelan.

“Ada kata-kata yang bagi seseorang mungkin biasa saja, tetapi bagi hati yang sedang berusaha menjaga diri, bisa menjadi terlalu hangat.”

Dada Ardashir terasa sesak.

Ia tahu percakapan itu akhirnya tiba di tempat yang selama ini mereka hindari.

“Artazara…”

Gadis itu mengangkat tangan kecil, menghentikannya dengan sopan.

“Biarkan aku bicara kali ini. Bukan sebagai putri jenderal. Bukan sebagai orang yang membaca peta. Bukan sebagai seseorang yang selalu berusaha tampak tenang.”

Ia menatap Ardashir.

“Hari ini aku ingin bicara sebagai manusia.”

Ardashir diam.

Matahari turun sedikit lagi.

Bayangan menara memanjang di tanah.

Artazara berkata dengan suara pelan namun jelas,

“Aku menyukaimu.”

Tidak ada musik.

Tidak ada angin tiba-tiba.

Tidak ada dunia yang berhenti.

Hanya kalimat sederhana yang akhirnya keluar dari tempat yang lama dijaga.

Ardashir merasa hatinya tertahan.

Artazara tersenyum tipis, seolah memahami kegelisahan di wajahnya.

“Jangan takut. Aku tidak mengatakan itu untuk memintamu meninggalkan siapa pun.”

Ardashir membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang cukup.

Artazara melanjutkan,

“Aku menyukaimu karena kau tidak berusaha terlihat lebih besar dari dirimu. Karena kau menghormati kuda seolah mereka sahabat. Karena kau memikirkan rumah di tengah kota yang membuat banyak orang lupa asalnya. Karena kau takut melukai hati orang lain, meskipun ketakutan itu kadang membuatmu terlambat bertindak.”

Ia menunduk sebentar, lalu tersenyum sangat lembut.

“Dan mungkin juga karena aku bodoh.”

“Kau tidak bodoh,” kata Ardashir cepat.

“Tidak semua kebodohan datang dari kepala,” jawab Artazara. “Ada yang datang dari hati.”

Ardashir menatapnya dengan sedih.

“Aku tidak ingin melukaimu.”

“Aku tahu.”

“Aku masih mencintai Roxana.”

“Aku tahu itu juga.”

Kalimat itu membuat Ardashir semakin sulit berbicara.

Artazara justru tampak lebih tenang setelah mengatakannya.

“Aku tidak ingin menjadi perempuan yang mengambil tempat perempuan lain,” katanya. “Aku tidak ingin mencintai dengan cara yang membuatku harus menundukkan wajahku sendiri di hadapan Tuhan, ayahku, atau diriku.”

Ia memandang menara api di belakang mereka.

“Tapi aku juga tidak ingin berbohong kepada hatiku sendiri. Jika aku menyukaimu, aku akan mengakuinya dengan terhormat. Setelah itu, biarkan aku menjaga diriku.”

Ardashir merasa matanya panas.

“Engkau lebih mulia daripada banyak orang yang pernah kukenal.”

Artazara menggeleng pelan.

“Jangan muliakan aku terlalu cepat. Aku masih manusia. Aku masih bisa cemburu. Aku masih bisa sedih. Aku masih bisa berharap sesuatu yang tidak seharusnya kuharap.”

Ia menatap Ardashir lagi.

“Bedanya, aku ingin memilih apa yang benar, bukan hanya apa yang kuinginkan.”

Di kejauhan, salah satu penjaga mulai menyalakan obor untuk persiapan malam.

Api kecil hidup di antara cahaya senja.

Ardashir berkata pelan,

“Aku menghormatimu, Artazara.”

“Aku tahu.”

“Dan aku akan menjaga batas itu.”

Artazara tersenyum.

“Jaga bukan hanya untukku. Jaga untuk dirimu. Untuk Roxana. Untuk semua orang yang akan terluka jika kita bersikap sembrono.”

Ardashir mengangguk.

Beberapa saat mereka berdiri berhadapan.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada genggaman tangan.

Tidak ada janji tersembunyi.

Namun di antara mereka ada sesuatu yang jarang: pengakuan yang tidak menuntut kepemilikan.

Dan justru karena itu, pengakuan itu terasa sangat dalam.


Malam turun ketika Ardashir kembali ke barak.

Ia berjalan lebih lambat dari biasanya.

Di langit, bintang-bintang mulai tampak.

Di kejauhan, menara api berdiri gelap dengan nyala kecil di puncaknya. Tanda bahwa kota tetap berjaga.

Vardan melihatnya masuk dan langsung membaca wajahnya.

“Wah,” katanya pelan. “Ini bukan wajah orang yang hanya menghitung kayu bakar.”

Ardashir duduk di tikarnya.

Vardan mendekat.

“Ada apa?”

Ardashir diam lama.

Lalu berkata,

“Artazara mengakui perasaannya.”

Vardan tidak tertawa.

Tidak menggoda.

Ia hanya duduk di samping Ardashir.

“Lalu?”

“Aku mengatakan aku masih mencintai Roxana.”

“Dan Artazara?”

“Ia tahu. Ia tidak meminta apa pun. Ia hanya ingin jujur, lalu menjaga kehormatannya.”

Vardan menghela napas panjang.

“Berat.”

“Ya.”

“Lebih mudah kalau dia jahat.”

Ardashir tersenyum pahit.

“Kau selalu berkata begitu.”

“Karena benar. Orang jahat membuat hidup sederhana. Orang baik membuat kita harus benar-benar mengenal diri sendiri.”

Ardashir memandang kain kecil dari Roxana yang tersimpan di samping surat-suratnya.

“Kadang aku merasa tidak pantas dicintai oleh orang-orang sebaik itu.”

Vardan menepuk bahunya.

“Kalau begitu jadilah lebih pantas. Jangan sibuk merasa kecil.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menguatkan.

Ardashir memejamkan mata.

Malam itu ia berdoa dalam diam.

Bukan agar semua orang terhindar dari luka.

Ia tahu itu mungkin mustahil.

Ia hanya berdoa agar jika luka harus datang, luka itu tidak lahir dari kebohongan.


Sementara itu, jauh di desa, Roxana duduk di ruang belakang rumah.

Di depannya ada kain sulam yang belum selesai.

Di ruang depan, ayahnya sedang berbicara dengan ayah Mehrdad.

Suara mereka tidak keras.

Tetapi cukup terdengar.

“Anak kami menghormati Roxana,” kata ayah Mehrdad. “Kami tidak ingin tergesa-gesa. Kami hanya ingin menyampaikan niat baik.”

Ayah Roxana menjawab dengan tenang,

“Niat baik harus disambut dengan baik. Tetapi keputusan tentang hidup anakku tidak akan dibuat tanpa mendengar hatinya.”

Roxana menunduk.

Matanya berkaca-kaca.

Ia bersyukur kepada ayahnya.

Di banyak rumah, seorang anak perempuan mungkin tidak diberi ruang untuk berbicara. Tetapi di rumah kecil itu, meski hidup sederhana, ia tetap diperlakukan sebagai manusia yang memiliki hati.

Ibunya duduk di sampingnya.

“Tarik napas,” bisik ibunya.

Roxana baru sadar bahwa ia menahan napas terlalu lama.

“Ibu,” katanya lirih.

“Ya?”

“Mehrdad orang baik.”

“Iya.”

“Keluarganya juga baik.”

“Iya.”

“Lalu mengapa kebaikan ini terasa berat?”

Ibunya mengusap punggung tangannya.

“Karena hatimu sudah memiliki arah.”

Roxana menutup mata.

“Apakah salah jika aku menunggu Ardashir?”

“Tidak.”

“Apakah salah jika keluarga lain datang dengan niat baik?”

“Tidak juga.”

Roxana membuka mata.

“Jadi siapa yang salah?”

Ibunya tersenyum sedih.

“Kadang tidak ada yang salah. Hanya saja hidup meminta keputusan.”

Kalimat itu membuat Roxana terdiam lama.

Ia memandang surat pertama Ardashir yang ia simpan di dekat tempat tidur.

Surat itu seperti cahaya kecil.

Tetapi di ruang depan, masa depan sedang mengetuk pintu dengan sopan.

Dan sesuatu yang sopan tidak selalu mudah ditolak.


Keesokan paginya, Mehrdad datang sendiri ke halaman rumah Roxana.

Ia membawa sekeranjang buah ara dari kebun keluarganya.

Tidak ada sikap memaksa.

Tidak ada senyum berlebihan.

Ia hanya berdiri di depan pagar rendah dan menunduk sopan ketika Roxana keluar.

“Roxana.”

“Mehrdad.”

“Aku ingin memberikan ini untuk keluargamu. Ayahku berkata ibumu menyukai buah ara.”

“Terima kasih.”

Roxana menerima keranjang itu.

Ada jeda singkat.

Mehrdad tampak memilih kata dengan hati-hati.

“Aku tahu mungkin kedatanganku dan keluargaku membuatmu tidak nyaman.”

Roxana terkejut oleh kejujurannya.

“Tidak. Bukan tidak nyaman.”

Mehrdad tersenyum tipis.

“Berat?”

Roxana tidak menjawab.

Dan diamnya sudah cukup.

Mehrdad menunduk pelan.

“Aku tahu tentang Ardashir.”

Roxana memegang keranjang itu lebih erat.

“Aku tidak ingin membicarakannya dengan tidak hormat,” lanjut Mehrdad. “Orang desa tahu kalian dekat sejak kecil.”

Roxana menatapnya.

Mehrdad melanjutkan,

“Aku hanya ingin kau tahu, aku tidak datang untuk memaksa. Aku juga tidak ingin menjadi orang yang mengambil sesuatu dari hati orang lain.”

Kalimat itu membuat Roxana terdiam.

Mehrdad benar-benar orang baik.

Dan justru karena itu, hatinya terasa semakin berat.

“Aku menghargaimu,” kata Roxana pelan.

“Terima kasih.”

“Aku hanya belum bisa menjawab apa pun.”

“Aku tidak meminta jawaban hari ini.”

Mehrdad tersenyum lembut.

“Aku hanya ingin datang dengan cara yang terang, bukan berbisik di belakang orang.”

Roxana merasa hormat kepadanya.

“Terima kasih karena menjaga itu.”

Mehrdad mengangguk.

“Semoga harimu baik.”

Setelah itu ia pergi.

Tidak menoleh berkali-kali.

Tidak membuat suasana menjadi dramatis.

Hanya pergi dengan tenang, sebagaimana orang yang menjaga kehormatannya sendiri.

Roxana berdiri lama di halaman.

Di tangannya ada keranjang buah ara.

Di hatinya ada nama Ardashir.

Dan di hadapannya, hidup mulai memperlihatkan bahwa cinta bukan hanya tentang siapa yang dirindukan, tetapi juga tentang bagaimana memperlakukan orang lain yang datang dengan niat baik.


Malam itu, di dua tempat yang jauh, dua perempuan sama-sama memandang bulan.

Di kota, Artazara berdiri di balkon rumah ayahnya. Ia merasa lebih ringan setelah mengakui perasaannya, tetapi juga lebih sedih karena kejujuran tidak selalu membawa apa yang diinginkan.

Di desa, Roxana duduk di bawah pohon delima, memegang surat pertama Ardashir dan memikirkan Mehrdad yang datang dengan sikap terhormat.

Keduanya tidak saling mengenal.

Namun tanpa mereka sadari, mereka sedang menjalani ujian yang sama:

bagaimana mencintai tanpa merendahkan diri,
bagaimana berharap tanpa memaksa,
bagaimana terluka tanpa menjadi buruk.

Dan jauh di barak kota Persia, Ardashir duduk dalam diam, menyadari bahwa dirinya dicintai oleh dua hati yang sama-sama baik.

Itu bukan kemenangan.

Itu amanah.

Sebab cinta dari orang baik bukan sesuatu untuk dibanggakan.

Ia adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.

Di luar barak, menara api menyala kecil di kejauhan.

Menjaga kota dari bahaya yang tampak.

Namun di dalam hati Ardashir, ada api lain yang harus ia jaga.

Agar tetap terang.

Tetapi tidak membakar siapa pun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar