Bab 16
Surat di Bawah Pohon Delima
Musim panen datang pelan-pelan ke desa.
Tidak dengan suara besar.
Tidak dengan panji-panji seperti di kota.
Musim panen datang melalui warna gandum yang mulai menguning, melalui aroma tanah kering di pagi hari, melalui tangan-tangan perempuan yang menyiapkan tempayan, dan melalui wajah para lelaki yang lebih sering menatap langit daripada bicara.
Di desa kecil itu, setiap orang tahu bahwa panen bukan hanya soal memotong gandum.
Panen adalah ujian kesabaran.
Jika air terlalu banyak, akar membusuk.
Jika air terlalu sedikit, batang mengering sebelum biji penuh.
Jika burung datang terlalu ramai, hasil berkurang.
Jika angin panas datang terlalu awal, orang-orang hanya bisa berdoa sambil menatap ladang.
Roxana berdiri di pematang bersama ayahnya.
Di tangan ayahnya ada tongkat kecil untuk membuka dan menutup sekat air. Saluran kecil dari tanah dan batu mengalir di antara petak-petak ladang.
Air itu tidak besar.
Tetapi bagi desa, ia seperti nadi.
“Jangan dibuka terlalu lama,” kata ayahnya.
Roxana mengangguk.
“Kalau ladang kita mengambil lebih banyak, ladang keluarga Azar akan kekurangan.”
Ayahnya tersenyum.
“Kau sudah paham.”
Roxana menatap air yang mengalir.
“Air mengajari manusia bersikap adil.”
“Kadang manusia yang sulit belajar,” jawab ayahnya.
Di dekat saluran utama, seorang tetua desa duduk mengawasi giliran air. Di sampingnya ada mangkuk kecil dari tanah liat berlubang halus di bagian bawah. Mangkuk itu diletakkan di permukaan bejana berisi air.
Perlahan-lahan air masuk melalui lubang kecil itu.
Ketika mangkuk tenggelam, giliran satu keluarga selesai.
Itulah cara sederhana desa membagi waktu.
Bukan dengan teriakan.
Bukan dengan pertengkaran.
Melainkan dengan air yang mengukur dirinya sendiri.
Roxana pernah melihat alat itu sejak kecil, tetapi hari itu ia memandangnya lebih lama.
Mangkuk kecil itu tenggelam perlahan, sabar, tanpa mempercepat dirinya.
Ia jadi teringat Ardashir.
Teringat janji.
Teringat malam perpisahan.
Teringat kata-kata yang belum pernah datang dalam bentuk surat.
Cinta, pikir Roxana, mungkin juga seperti giliran air.
Ia tidak bisa dipaksa mengalir sepanjang waktu hanya ke satu ladang.
Ia harus diberi ruang.
Ia harus diberi sabar.
Tetapi jika terlalu lama tidak datang, tanah pun bisa retak.
Sejak Ardashir pergi, Roxana belajar menjalani hari dengan hati yang lebih diam.
Ia tetap membantu ibunya menenun.
Tetap mengambil air dari sumur.
Tetap menumbuk gandum.
Tetap tersenyum ketika tetangga menyapanya.
Tetap datang ke pohon delima ketika sore mulai turun.
Namun ada bagian dirinya yang seperti ruang kosong di rumah lama.
Tidak terlihat dari luar.
Tetapi ia tahu ruang itu ada.
Kadang ia merasa kuat.
Kadang ia merasa terlalu kuat sampai takut orang lain lupa bahwa ia juga bisa lelah.
Ibunya pernah berkata,
“Menunggu bukan berarti berhenti hidup.”
Roxana memegang kalimat itu erat-erat.
Maka ia tidak berhenti hidup.
Ia tetap menenun kain baru.
Ia tetap belajar menghitung hasil gandum.
Ia bahkan mulai membantu ayahnya mencatat giliran air dan jumlah panen keluarga-keluarga kecil yang sering kesulitan menghitung sendiri.
Tulisan Roxana rapi.
Tidak seindah tulisan para juru catat kerajaan, tetapi cukup jelas untuk membuat tetua desa mengangguk puas.
“Anak perempuan yang bisa menulis rapi itu berkah,” kata tetua itu suatu sore.
Roxana tersenyum.
“Karena kalau salah hitung, orang bisa bertengkar?”
“Bukan hanya itu,” jawab tetua. “Tulisan membuat manusia tidak terlalu bergantung pada ingatan. Ingatan sering dipengaruhi perasaan.”
Roxana menunduk, menyembunyikan senyum kecil.
Ia tahu itu benar.
Sebab ingatannya sendiri selalu kembali kepada satu nama.
Ardashir.
Sore itu, ketika matahari mulai condong, sebuah rombongan kecil datang ke desa.
Tiga ekor keledai membawa kain, garam, dan beberapa tempayan minyak. Seorang pedagang berjalan di depan, wajahnya ramah, janggutnya dipenuhi debu perjalanan.
Anak-anak desa langsung berlari mendekat.
Pedagang selalu membawa kabar.
Dan di desa kecil, kabar kadang lebih menarik daripada barang dagangan.
Roxana sedang membantu ibunya menjemur kain ketika suara tetangga memanggil dari jalan.
“Roxana! Ada pedagang dari utara!”
Tangannya berhenti.
Dari utara.
Kata itu sederhana.
Tetapi jantungnya mendadak bergerak lebih cepat.
Ia tidak langsung berlari.
Ia menata napas terlebih dahulu.
Lalu berjalan keluar rumah dengan sikap setenang mungkin.
Di dekat pohon delima, pedagang itu sedang berbicara dengan ayah Roxana.
“Benar ini rumah keluarga pembuat kain?” tanya pedagang itu.
Ayah Roxana mengangguk.
“Benar. Ada perlu apa?”
Pedagang itu membuka kantong kecil di pinggangnya.
“Aku membawa titipan.”
Roxana merasa seluruh suara di sekelilingnya menjauh.
Pedagang itu mengeluarkan tabung kecil dari kulit.
“Untuk seorang gadis bernama Roxana.”
Ibunya yang berdiri di belakang langsung memandang Roxana.
Ayahnya juga menoleh.
Roxana melangkah maju.
“Aku Roxana.”
Pedagang itu menyerahkan tabung itu dengan hati-hati.
“Seorang pemuda di kota menitipkannya. Namanya Ardashir.”
Tidak ada yang berbicara beberapa detik.
Nama itu jatuh di udara seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.
Roxana menerima tabung itu dengan kedua tangan.
Ia ingin bertanya banyak hal.
Apakah Ardashir sehat?
Apakah ia tampak lelah?
Apakah ia masih seperti dulu?
Apakah ia menyebut namanya dengan suara yang tenang atau terburu-buru?
Namun yang keluar dari bibirnya hanya,
“Terima kasih.”
Pedagang itu tersenyum.
“Ia memintaku memastikan surat ini sampai. Bukan hanya mengusahakan.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Roxana tersenyum benar-benar.
“Itu seperti dia.”
Ibunya segera mengajak pedagang itu masuk untuk diberi minum. Ayah Roxana kembali berbicara dengan beberapa lelaki desa.
Tetapi Roxana tidak ikut.
Ia berjalan perlahan menuju pohon delima.
Tempat segala sesuatu bermula.
Tempat janji pernah diucapkan.
Tempat rindu selama ini duduk menunggu.
Di bawah pohon delima, Roxana duduk dengan tabung kulit di pangkuannya.
Tangannya bergetar sedikit ketika membuka ikatannya.
Surat itu terlipat rapi.
Kertasnya tidak halus, tetapi dijaga baik-baik.
Ia membuka perlahan.
Tulisan Ardashir tidak seindah tulisan juru catat, tetapi kuat dan jujur. Ada bagian yang sedikit miring, seolah ditulis ketika hatinya sedang lebih cepat daripada tangannya.
Roxana mulai membaca.
Roxana,
Aku melihat air berjalan di bawah tanah.
Aku melihat jalan panjang yang membuat pesan bergerak lebih cepat daripada angin desa kita.
Aku melihat kota yang begitu besar sampai manusia mudah lupa bahwa ia pernah berasal dari tempat kecil.
Roxana berhenti sejenak.
Ia menatap jauh ke arah ladang.
Air berjalan di bawah tanah.
Ia membayangkan Ardashir berdiri di taman istana, melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat bersama.
Ada rasa hangat.
Tetapi ada juga sedikit sakit.
Karena kini ada bagian dunia Ardashir yang tidak ia saksikan.
Ia melanjutkan membaca.
Aku ingin bercerita banyak kepadamu.
Tentang taman istana.
Tentang kuda-kuda perang.
Tentang seorang pelatih bernama Rustom yang lebih sering berteriak daripada bernapas.
Tentang sahabatku, Vardan, yang yakin bahwa semua masalah hidup bisa diselesaikan dengan roti hangat.
Roxana tertawa kecil.
Tawa itu keluar tiba-tiba, lembut, basah oleh rindu.
Ibunya yang memperhatikan dari jauh mengusap sudut matanya diam-diam.
Roxana membaca lagi.
Tetapi yang paling ingin kukatakan justru sederhana.
Aku masih ingat jalan pulang.
Di bagian itu, pandangan Roxana mengabur.
Ia menunduk.
Surat di tangannya mulai bergetar.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kata-kata indah yang berlebihan.
Tetapi kalimat itu cukup.
Cukup untuk membuat semua hari sunyi yang pernah ia lewati terasa tidak sia-sia.
Ia membaca syair di bawahnya.
Aku berjalan di jalan para raja,
tetapi hatiku tetap mencari jalan kecil menuju rumah.Aku melihat kota yang menyimpan seribu cahaya,
tetapi satu lentera di desamu
masih lebih terang dalam ingatanku.Jika rindu adalah kuda,
tentu ia sudah tiba lebih dahulu dariku.
Roxana menutup mata.
Air matanya jatuh, tetapi bibirnya tersenyum.
Ia tidak menangis karena sedih.
Ia menangis karena sesuatu yang terlalu lama tertahan akhirnya menemukan jalan keluar.
Seperti air.
Seperti doa.
Seperti rindu yang akhirnya sampai.
Malam itu, rumah Roxana terasa lebih hangat.
Ayahnya tidak banyak bicara, tetapi ia memeriksa surat itu dari jauh dengan wajah yang lebih lembut dari biasanya.
Ibunya menyiapkan roti hangat untuk pedagang dan rombongannya.
Pedagang itu bercerita tentang kota.
Tentang jalan batu.
Tentang pos kurir.
Tentang gudang besar.
Tentang pemuda-pemuda desa yang dilatih menjadi prajurit.
Roxana mendengarkan tanpa banyak bertanya.
Namun setiap kali pedagang menyebut kota, ia membayangkan Ardashir berjalan di sana.
Lebih tinggi.
Lebih kuat.
Mungkin lebih dewasa.
Dan mungkin, sedikit lebih jauh dari dirinya.
Pikiran itu membuat hatinya kembali tertahan.
Setelah makan malam, ibunya duduk di sampingnya.
“Kau senang?”
Roxana mengangguk.
“Sangat.”
“Tapi matamu masih menyimpan sesuatu.”
Roxana tersenyum kecil.
“Ibu selalu tahu.”
“Karena aku pernah muda.”
Roxana memandang surat itu.
“Aku senang ia mengingatku. Tapi aku juga sadar… ia sedang hidup di dunia yang besar.”
Ibunya tidak langsung menjawab.
Ia membiarkan anaknya menyelesaikan perasaan itu sendiri.
Roxana melanjutkan,
“Aku takut suatu hari ia pulang, tetapi tidak lagi merasa desa ini cukup.”
Ibunya menggenggam tangan Roxana.
“Anakku, seseorang yang sudah melihat dunia besar memang bisa berubah. Tetapi tidak semua perubahan berarti meninggalkan.”
“Bagaimana kalau ia berubah terlalu jauh?”
“Kalau ia benar-benar orang baik, ia akan berusaha tetap jujur. Dan kalau kau benar-benar mencintainya, kau juga harus berani melihat dia tumbuh.”
Roxana menunduk.
“Mencintai orang yang pergi ternyata tidak sederhana.”
Ibunya tersenyum.
“Tidak ada cinta yang benar-benar sederhana. Yang sederhana hanya cerita orang yang belum menjalaninya.”
Keesokan harinya, kabar bahwa Roxana menerima surat dari Ardashir menyebar ke beberapa rumah.
Tidak ada yang berniat buruk.
Desa kecil memang begitu.
Jika seseorang batuk terlalu keras, sore harinya tiga rumah sudah tahu.
Jika ada surat dari kota, seluruh desa bisa ikut merasa penting.
Beberapa gadis menggoda Roxana ketika mengambil air.
“Jadi prajurit kota masih ingat jalan pulang?”
Roxana tersenyum malu.
“Dia hanya menulis kabar.”
“Kabar bisa lebih panjang dari cinta,” goda yang lain.
Roxana menunduk, tetapi pipinya memerah.
Di kejauhan, seorang pemuda memperhatikan percakapan itu.
Namanya Mehrdad.
Ia bukan pemuda buruk.
Bukan pula orang congkak.
Ia anak dari keluarga pengelola lumbung wilayah kecil di dekat desa itu. Keluarganya lebih berada dibandingkan keluarga Roxana, tetapi ia tidak pernah merendahkan orang desa.
Mehrdad sering datang bersama ayahnya untuk mencatat hasil panen dan urusan pajak gandum. Ia mengenal Roxana sejak beberapa tahun lalu, meski tidak dekat.
Namun sejak Ardashir pergi, ia mulai lebih sering memperhatikan Roxana.
Bukan dengan tatapan lancang.
Melainkan dengan rasa kagum yang tenang.
Ia kagum pada cara Roxana berbicara kepada orang tua.
Kagum pada caranya menenangkan anak-anak kecil.
Kagum pada tulisannya yang rapi ketika membantu tetua desa mencatat giliran air.
Hari itu, ketika orang-orang mulai pergi dari sumur, Mehrdad mendekat dengan sopan.
“Roxana.”
Roxana menoleh.
“Mehrdad.”
“Aku dengar kau menerima surat dari kota.”
Roxana tersenyum kecil.
“Desa ini rupanya lebih cepat daripada kurir kerajaan.”
Mehrdad tertawa pelan.
“Benar. Di desa, kabar tidak perlu kuda. Cukup dua orang yang berbisik.”
Roxana ikut tersenyum.
Mehrdad lalu berkata lebih serius,
“Aku senang kau mendapat kabar baik.”
Roxana memandangnya.
Ucapan itu terdengar tulus.
“Terima kasih.”
Mehrdad tidak bertanya isi surat.
Tidak menyinggung Ardashir dengan nada merendahkan.
Tidak mencoba membuat Roxana merasa bersalah karena menunggu.
Ia hanya menunduk sedikit.
“Semoga ia selalu dalam perlindungan.”
Roxana merasa hormat kepada pemuda itu.
“Amin.”
Setelah Mehrdad pergi, Roxana berdiri beberapa saat di dekat sumur.
Ia tahu dunia mulai bergerak.
Ardashir di kota.
Mehrdad di desa.
Artinya, hidup tidak akan berhenti hanya karena ia menunggu.
Dan justru karena itu, menunggu menjadi pilihan yang harus dijaga dengan sadar, bukan sekadar kebiasaan hati.
Sore harinya, Roxana duduk di bawah pohon delima dengan surat Ardashir di pangkuannya.
Ia membaca ulang beberapa bagian.
Lalu ia mengambil selembar kain kecil dan alat tulis sederhana.
Ia tidak tahu apakah akan mengirim balasan.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa ingin menulis.
Tangannya mulai bergerak pelan.
Ardashir,
Suratmu sampai ketika desa mulai memasuki musim panen.
Air di ladang kami dibagi dengan mangkuk kecil yang tenggelam perlahan. Setiap keluarga mendapat giliran. Tidak boleh lebih, tidak boleh kurang.
Melihat itu, aku berpikir tentang rindu.
Rindu juga harus dibagi dengan sabar. Jika terlalu deras, ia bisa menghanyutkan hati. Jika terlalu lama ditahan, ia membuat tanah di dalam dada retak.
Roxana berhenti.
Ia tersenyum sendiri, malu kepada tulisannya.
Namun ia melanjutkan.
Aku senang kau melihat dunia yang besar.
Aku ingin kau menjadi kuat.
Tetapi jangan menjadi kuat dengan cara melupakan hal-hal lembut yang dulu membuatmu baik.
Ia menatap pohon delima.
Buah-buah kecil mulai tumbuh.
Belum merah.
Belum matang.
Tetapi ada.
Seperti harapan.
Lalu Roxana menulis syair pendek:
Jika kau berjalan di bawah panji para raja,
berjalanlah dengan hati yang tetap mengenal tanah.Jika tanganmu kelak memegang pedang,
jangan lupa tangan itu pernah menggenggam janji
di bawah pohon delima.Aku tidak meminta kau cepat pulang.
Aku hanya berdoa
kau tidak kehilangan arah.
Roxana meletakkan alat tulisnya.
Ia belum tahu apakah surat itu akan dikirim.
Kini ia mengerti perasaan Ardashir.
Menulis tidak mudah.
Sebab kata-kata yang sudah keluar dari hati tidak bisa dipanggil pulang begitu saja.
Malam turun perlahan.
Roxana masih duduk di bawah pohon delima.
Surat Ardashir terlipat di samping surat balasannya yang belum selesai.
Angin menggerakkan daun-daun.
Dari jauh terdengar suara ayahnya menutup pintu lumbung kecil.
Di langit, bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Roxana memandang ke atas.
Mungkin Ardashir melihat langit yang sama.
Mungkin tidak.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak kepergian pemuda itu, jarak terasa sedikit lebih manusiawi.
Bukan hilang.
Bukan dekat.
Tetapi tidak lagi bisu.
Di kota, Ardashir belajar membaca peta.
Di desa, Roxana belajar membaca hatinya sendiri.
Dan di antara keduanya, satu surat telah membuktikan bahwa rindu yang dijaga dengan hormat akhirnya bisa menemukan jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar