Kamis, 11 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (12)

 

Bab 12

Air yang Berjalan di Bawah Tanah



Pagi itu Ardashir tidak dibangunkan oleh teriakan Rustom.

Itu saja sudah terasa seperti keajaiban.

Para pemuda di barak masih tertidur ketika seorang prajurit senior masuk dan menyebut namanya.

“Ardashir.”

Ia segera bangun.

“Ya.”

“Kau ikut ke taman istana bagian timur. Kuda-kuda kerajaan akan diperiksa.”

Vardan yang masih setengah tidur membuka satu mata.

“Taman istana?” gumamnya. “Kalau nanti kau pulang membawa wangi bunga, jangan tidur di sampingku.”

Ardashir tersenyum kecil, lalu mengambil jubahnya.

Udara pagi di kota masih sejuk. Jalan-jalan batu belum terlalu ramai. Hanya beberapa pedagang roti, pembawa air, dan prajurit penjaga yang sudah bergerak lebih dulu daripada matahari.

Ketika mereka tiba di taman istana bagian timur, Ardashir berhenti sejenak.

Ia pernah melihat kebun di desanya.

Ia pernah melihat ladang gandum yang menguning.

Ia pernah melihat pohon delima berbunga di bawah langit musim semi.

Tetapi taman ini berbeda.

Jalannya tersusun rapi dari batu putih. Pohon-pohon ditanam dalam barisan yang seolah dihitung oleh tangan ahli. Air mengalir di parit-parit kecil yang memotong taman menjadi empat bagian, jernih dan tenang, seperti benang perak yang ditarik di atas bumi.

Di tengah taman ada kolam panjang. Permukaannya memantulkan langit pagi.

Ardashir menatap air itu lama.

“Dari mana air sebanyak ini datang?” tanyanya pelan.

Prajurit senior itu tertawa kecil.

“Anak desa selalu bertanya seperti anak kecil.”

Sebelum Ardashir sempat menjawab, suara lain terdengar dari belakang.

“Justru pertanyaan seperti itu yang membuat seseorang tidak bodoh.”

Ardashir menoleh.

Artazara berdiri di sisi jalan batu, mengenakan pakaian sederhana berwarna hijau tua. Tidak ada perhiasan berlebihan. Hanya gelang tipis di pergelangan tangannya dan kain kepala yang tertata rapi.

Prajurit senior langsung menunduk hormat.

“Putri.”

Ardashir ikut menunduk.

Artazara berjalan mendekat ke tepi saluran air.

“Air ini tidak datang dari sungai dekat kota,” katanya. “Ia datang dari jauh. Dari kaki pegunungan.”

Ardashir memandang saluran kecil itu.

“Bagaimana mungkin?”

Artazara mengambil sebatang ranting kecil, lalu menggambar garis di tanah.

“Orang-orang Persia menggali lorong di bawah tanah. Panjangnya bisa sangat jauh. Air dari tempat tinggi dialirkan perlahan dengan kemiringan yang tepat. Tidak terlalu deras, tidak terlalu lambat.”

“Di bawah tanah?”

Artazara mengangguk.

“Kami menyebutnya qanat. Air berjalan diam-diam, terlindung dari panas matahari. Orang yang lewat di atasnya mungkin tidak melihat apa pun. Tetapi di bawah kaki mereka, kehidupan sedang mengalir.”

Kalimat itu membuat Ardashir terdiam.

Air berjalan di bawah tanah.

Seperti rindu, pikirnya.

Tidak terlihat oleh banyak orang, tetapi terus bergerak dalam diam.

Artazara memperhatikan wajahnya.

“Kau memikirkan sesuatu.”

Ardashir tersadar.

“Di desa kami, air kecil dari bukit mengalir ke ladang. Jika kemarau panjang, semua orang cemas.”

“Karena air adalah kehidupan.”

“Ya,” jawab Ardashir. “Tapi aku baru tahu bahwa kehidupan bisa dibuat berjalan sejauh itu.”

Artazara tersenyum tipis.

“Itulah sebabnya ayahku selalu berkata: kerajaan tidak berdiri hanya karena tombak. Kerajaan berdiri karena air, jalan, kuda, dan orang-orang yang mampu menghitung jarak.”

Ardashir memandangnya.

Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa Artazara bukan hanya putri jenderal yang berani. Ia juga perempuan yang memahami dunia dengan cara yang luas.

Dan itu membuatnya kagum.

Namun kekaguman itu datang bersama rasa hati-hati.

Sebab di tempat paling dalam dirinya, masih ada nama lain yang ia jaga.

Roxana.


Mereka berjalan menyusuri taman.

Di beberapa titik, Ardashir melihat lubang-lubang tegak seperti sumur kecil yang ditutup batu.

Artazara menunjukkannya.

“Itu lubang pemeriksaan. Para pekerja bisa turun untuk membersihkan saluran bawah tanah.”

“Jadi taman ini hidup karena orang-orang yang bahkan tidak terlihat?”

“Banyak hal besar begitu,” kata Artazara pelan. “Yang terlihat indah di atas, sering dijaga oleh kerja sunyi di bawah.”

Ardashir menoleh kepadanya.

Kalimat itu terasa bukan hanya tentang taman.

Mungkin juga tentang manusia.

Mungkin tentang ayahnya yang diam-diam menyiapkan kuda terbaik untuk keberangkatannya.

Mungkin tentang Roxana yang menunggu tanpa menuntut.

Mungkin tentang Artazara sendiri, yang hidup di balik kemegahan istana, tetapi menyimpan kesepian yang tidak diketahui banyak orang.

Di tepi kolam, beberapa kuda kerajaan sedang diberi minum. Ardashir segera mendekat, memeriksa kaki, punggung, dan gigi salah satu kuda.

Artazara memperhatikannya.

“Kau berbeda ketika bersama kuda,” katanya.

“Berbeda bagaimana?”

“Kau seperti tidak perlu berpikir untuk memahami mereka.”

Ardashir mengusap leher kuda itu perlahan.

“Kuda tidak suka kebohongan. Jika kita takut, ia tahu. Jika kita kasar, ia ingat. Jika kita tenang, ia percaya.”

Artazara terdiam mendengar itu.

Lalu ia berkata lebih pelan,

“Manusia seharusnya belajar dari kuda.”

Ardashir tersenyum samar.

“Mungkin manusia terlalu pandai berbicara, sampai lupa cara percaya.”

Artazara menatapnya sebentar.

Ada sesuatu dalam ucapan Ardashir yang membuatnya merasa hangat sekaligus sedih.

Ia ingin bertanya tentang gadis desa yang mungkin sedang dirindukan pemuda itu.

Tetapi ia tidak melakukannya.

Karena Artazara adalah perempuan terhormat.

Ia tahu ada batas yang tidak boleh dilewati hanya karena hati mulai tertarik.


Sore harinya, ketika tugas selesai, Artazara menyerahkan sebuah benda kecil kepada Ardashir.

Sebuah papan tipis dari kayu halus, berisi ukiran sederhana tentang susunan taman dan aliran air.

“Ini bukan hadiah istana,” katanya cepat, seolah tidak ingin disalahpahami. “Anggap saja catatan. Kau tadi bertanya tentang air. Kupikir kau akan memahaminya lebih baik jika melihat bentuknya.”

Ardashir menerima papan itu dengan hati-hati.

“Terima kasih.”

“Jangan berterima kasih terlalu serius. Itu membuatku merasa tua.”

Ardashir tersenyum.

“Baik. Kalau begitu aku hanya akan mengingatnya.”

Jawaban itu membuat Artazara diam sesaat.

Karena bagi sebagian orang, diingat lebih berbahaya daripada diberi ucapan terima kasih.


Malamnya, Ardashir kembali ke barak.

Vardan langsung duduk tegak begitu melihatnya.

“Nah. Taman istana. Putri jenderal. Kuda kerajaan. Aku merasa hidupmu mulai lebih indah daripada hidupku.”

Ardashir meletakkan papan kayu itu di dekat tikarnya.

“Dia menjelaskan tentang saluran air.”

Vardan menatapnya datar.

“Seorang putri cantik mengajakmu berjalan di taman, dan yang kau ingat adalah saluran air?”

Ardashir tidak menjawab.

Vardan menggeleng-geleng.

“Kadang aku yakin para dewa memberi keberuntungan kepada orang yang tidak tahu cara menikmatinya.”

Namun malam itu, setelah semua orang tidur, Ardashir belum bisa memejamkan mata.

Ia melihat papan kayu pemberian Artazara.

Lalu mengeluarkan kain merah pemberian Roxana.

Dua benda itu terletak berdampingan di hadapannya.

Satu mengingatkannya pada dunia besar yang baru ia masuki.

Satu mengingatkannya pada rumah yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Ardashir menatap keduanya lama.

Tidak ada dosa dalam menerima kebaikan.

Tidak ada salah dalam mengagumi kecerdasan.

Tetapi hati manusia, pikirnya, harus dijaga sejak ia mulai bergetar.

Sebab luka sering tidak dimulai dari pengkhianatan besar.

Kadang ia dimulai dari kelalaian kecil yang dibiarkan menjadi jalan.

Maka malam itu Ardashir berdoa dalam diam.

Agar ia tetap menjadi manusia yang jujur.

Kepada Roxana.

Kepada Artazara.

Dan kepada dirinya sendiri.


Jauh di desa, Roxana sedang membantu ayahnya mengatur aliran air ke ladang.

Mereka membuka dan menutup sekat kecil dari batu agar air mengalir merata.

Bulan menggantung rendah di atas sawah dan kebun.

Ayah Roxana berkata,

“Air harus dibagi dengan adil. Kalau satu ladang mengambil terlalu banyak, ladang lain akan mati.”

Roxana memandang aliran kecil itu.

Kalimat ayahnya terasa sederhana.

Tetapi entah mengapa, malam itu ia memikirkan hati manusia.

Apakah cinta juga seperti air?

Jika ditahan terlalu keras, ia membuat sesak.

Jika dilepas tanpa arah, ia menghilang.

Tetapi jika dijaga dengan sabar, mungkin ia bisa sampai ke tempat yang jauh.

Roxana menatap langit.

Lalu berbisik sangat pelan,

“Semoga hatimu tetap menemukan jalan pulang, Ardashir.”

Air kecil itu terus mengalir.

Diam.

Setia.

Seperti rindu yang belum menemukan surat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar